Urip Mung Numpang Ngombe

Posted: April 25, 2012 in Konseling

“Urip Mung Numpang Ngombe..eling..eling..ojo dumeh

By. Pakde Eky

 

 

Terkadang hidup itu sulit dimengerti, banyak polemik yang selalu mengisi hari-hari dalam kehidupan. Ada suka…ada duka..semua penuh makna dan arti, jika ditelaah semua bermuara kepada amal perbuatan kita. Kita ini berperan layaknya seperti wayang dimana Dalangnya adalah Tuhan. Semua langkah awal dan akhir dari pertunjukkan Dalang sebagai penentunya. Kita hanya menurut skenario yang dijalankan oleh sang Sutradara yaitu Dalang. Dalam pewayangan banyak peran yang dimainkan, seperti juga dalam kehidupan ini ada kejahatan dan kebaikan. Jika dihubungkan dalam pewayangan pihak yang baik adalah Pandawa sedangkan pihak yang jahat adalah Korawa. Kebaikan dan Kejahatan selalu mengisi dan tidak akan pernah berpisah dalam kehidupan manusia. Seperti halnya adanya siang dan malam, hidup dan mati. Tetapi kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan.

 

Budaya Jawa mengenal tiga jenis watak yaitu nistha, madya, dan utama. Watak dan laku nista adalah sifat dan perbuatan yang hina. Dalam pewayangan tercermin dalam watak dan perbuatan tokoh-tokoh yang disimping (dijejer, dipajang) di sebelah kiri, tokoh-tokoh hitam, pelaku kejahatan, yakni bangsa raksasa, Korawa, yang dalam hidupnya sangat banyak melakukan tindakan yang tercela dan selalu membuat onar.

 

 

 

Watak dan laku/perbuatan madya adalah watak dan perbuatan yang pantas (samadya, cukup, sedang), artinya yang baik, tidak jelek, tetapi bukan yang sangat atau ter-baik, hal ini dikaitkan dengan perannya dalam lakon. Seperti sebenarnya seorang tokoh baik wataknya, tetapi karena terpaksa, harus melakukan tindakan yang kurang baik, misalnya harus berbohong, tetapi itu demi kebaikan (dora sembada). Watak atau perbuatan yang utama, yakni watak atau perbuatan yang sangat baik, sangat terpuji, yang Maespati? Prabu Arjunasasra dikerahkan memerangi kerajaan Magada. Mereka ketakutan menghadapi kehebatan musuh, lalu berlarian meninggalkan gelanggang…istilah menyerah sebelum berperang. Oleh Patih Suwanda para raja tersebut dijatuhi surat yang isinya mengingatkan agar mereka hendaknya tidak berjiwa kerdil, melakukan perbuatan nista, lari dari peperangan. Kita simak kutipan berikut:

Sagung nrepati manggala, away tan murih utami, apan ya Gustinira, maha prabu Maespati, nistha madya tinampik, mung utama tetepipun, kang linampahan, sireku para narpati, tinggal madya padha ngarepake nistha.

Semua para raja, pemimpin, janganlah melakukan tindak yang tidak utama, karena gustimu Maha Prabu di Maespati menolak perbuatan yang nista maupun madya, hanyalah perbuatan yang utama yang dilakukan. Kalian itu raja,tetapi malahan meninggalkan perbuatan yang baik dan justru mengedepankan perbuatan hina.

Timbulnya kejahatan karena suatu nafsu,ambisi,iri,dengki rasa tidak puas,dendam dan keinginan yang sangat besar untuk suatu hal yang tertanam di sulbi setiap insan manusia. Ketidakmampuan untuk memperoleh semua keinginan dapat menimbulkan motivasi untuk mendapatkan dengan cara apapun…

Urip mung numpang ngombe peribahasa jawa yang mengatakan hidup itu hanya numpang minum…toh destinasinya setiap manusia akan kembali lagi kepada Tuhan untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di dunia.

Cikarang, 26 April 2012

Dari lubuk hati yang terdalam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s